Perkembangan komputer yang semakin pesat berikut sistem dan akses global yang semakin gampang dan murah membawa kita kepada era digital yang dulunya masih dianggap teknologi yang tinggi sekali. Sehingga anggapan bahwa komputer hanya untuk orang-orang berduit dan berintelejensi diatas rata-rata, sekarang berubah usang.
Apalagi di Provinsi Sumatera Utara yang kita cintai ini, hampir di setiap jengkal wilayah yang berpenduduk telah terhubung dengan sinyal telepon seluler. Artinya di tempat-tempat tersebut, para pengguna handphone dengan mudah terhubung secara global. Berselancar dengan internet.
Memang secara umum, Indonesia masih di posisi sebagai pengguna sistem teknologi informasi (TI) dan sistem komputer. Perkembangan sistem TI dan sistem komputer tidak lantas menempatkan Indonesia sebagai pemain global. Begitu banyak dukungan yang belum dimiliki meski Indonesia memiliki kemampuan sebagai pemain.
Contoh perkembangan TI yang sedang hangat dibicarakan di negara-negara maju adalah Komputasi Awan (Cloud Computing). Walaupun di luar negeri perebutan area Komputasi Awan ini begitu hingar-bingar, tetapi di Indonesia yang serius tercatat hanya PT. Telkom melalui anak perusahaannya Sigma Cipta Caraka untuk aplikasi core banking bagi bank kecil-menengah. Selanjutnya bekerja sama dengan IBM Indonesia dan mitra bisnisnya, PT. Codephile, Telkom menawarkan aplikasi e-Office on Demand.
Jika dibandingkan dengan pemain-pemain global seperti IBM, Microsoft, Google dan Apple, peperangan untuk menjadi penguasa teknologi Komputasi Awan begitu seru, maka PT. Telkom termasuk perusahaan yang tidak ingin hanya menjadi pengguna walau mungkin tidak menjadi provider kelas dunia.
Lebih Dalam Mengenai Komputasi Awan
John McCarthy, seorang pakar komputasi MIT pada tahun 1960-an mempunyai visi bahwa suatu hari nanti komputasi akan menjadi infrastruktur publik seperti halnya listrik dan telepon. Beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun1995, pendiri Oracle, Larry Ellison memunculkan ide Network Computing sebagai kampanye menggugat dominasi Microsoft, yang pada tahun yang meluncurkan software Windows 95 dan merajai desktop komputer. Ide Network Computing tersebut sempat menghangat dengan hadirnya beberapa pabrikan yaitu: Sun Microsystem dan Novell Netware. Namun kemudian ide ini kembali menghilang karena keterbatasan kualitas jaringan komputer yang belum memadai pada saat itu.
Komputasi Awan semakin populer di awal tahun 2000-an, dimana eks Vice President di Oracle, Marc Benioff meluncurkan layanan aplikasi dalam bentuk Software as a Service di Salesforce.com dengan misinya yang terkenal dengan "The End of Software". Mulai saat itu Komputasi Awan (Cloud Computing) bergulir bak bola salju. Demikian sekilas sejarah awal teknologi ini.
Ditilik dari namanya, Komputasi Awan pada dasarnya menggunakan Internet-based Service untuk penyediaan berbagai layanan software, sistem operasi dan penyimpan data. Penggunaan kata awan sendiri karena teknologi ini berbasis internet, yang biasa digambarkan dalam bentuk awan. Secara singkat Komputasi Awan adalah sebuah teknologi yang menyediakan berbagai layanan yang dibutuhkan pengguna. Mulai dari software, sistem operasi, dan penyimpan data yang mudah digunakan dan fleksibel dalam hal biaya.
Fleksibiltas biaya dimungkinkan karena pengguna (user) bebas memilih jenis layanan sesuai keperluannya. Dalam hal memilih pun, pengguna dapat dengan cepat berganti-ganti jenis tanpa harus melewati prosedur berbelit. Jenis kontrak tersebut terbagi dalam tiga, yaitu: Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS), dan Infrastructure as a Service (IaaS).
Jenis kontrak SaaS memberikan kemudahan kepada pengguna untuk dapat memanfaatkan sumberdaya perangkat lunak (software) dengan cara berlangganan. Komputasi yang saat ini ada mengharuskan pengguna meng-instal berbagai software berikut lisensinya ke dalam komputer. Harga software original yang mahal dan keterbatasan kapasitas hard-disk menjadi halangan tersendiri bagi performa komputer dan cost pengguna. Pemain global sebagai penyedia yang ada sekarang contohnya: Salesforce.com, Zoho.com, Xero.com
Sedangkan PaaS memberikan layanan yang menyediakan modul-modul siap pakai dan memungkinkan pengguna mengembangkan aplikasi yang hanya bisa berjalan di atas platform tersebut. PaaS dan SaaS mempunyai karateristik yang sama yaitu pengguna tidak memiliki kendali terhadap sumberdaya komputasi dasar seperti memori, media penyimpanan, processing power, dan lain-lain. Google AppEngine merupakan platform yang disediakan google untuk layanan ini.
Selanjutnya Infrastructure as a Service (IaaS) pada posisi atau level yang lebih rendah dibanding PaaS. IaaS pada prinsipnya menyewakan sumberdaya TI dasar, meliputi media penyimpanan, processing power, memory, sistem operasi, kapasitas jaringan, dan lain-lain. Mirip dengan penyedia data center tapi lebih kepada unsur mikro. Perbedaan dengan layanan data center konvensional saat ini adalah IaaS memungkinkan pelanggan melakukan penambahan atau pengurangan kapasitas secara fleksibel dan otomatis. Amazon.com dengan aplikasi Amazon EC2 (Elastic Computing Cloud) merupakan pionirnya.
Faktor Risiko Cloud Computing
Bagi perusahaan yang membutuhkan tingkat keamanan dan kerahasiaan data yang tinggi (High Secure Data) memang harus memilah secara detail kegiatan apa saja boleh menggunakan teknologi Komputasi Awan. Karena semua data dari seluruh pengguna tersimpan pada satu host provider, sehingga tingkat keamanannya rendah karena kemungkinan kebocoran data lebih besar tanpa sepengetahuan pengguna/penyewa. Facebook salah satu perusahaan yang berusaha memperbaiki terms of use aggrement pengguna akibat dari faktor keamanan data.
Selain hambatan keamanan data, kemungkinan kehilangan data dan cara mendapatkannya kembali menjadi persoalan tersendiri bagi TI Komputasi Awan. Human error (kesalahan manusia), bencana alam, dan sebagainya merupakan kemungkinan penyebab kehilangan data yang paling sering dialami. Dengan demikian kehati-hatian pengguna sebelum menjalin kontrak penggunaan Komputasi Awan perlu lebih ketat. Sumber daya yang mudah dan murah dengan menggunakan Komputasi Awal untuk keperluan bisnis perusahaan bukan berarti harus mengabaikan faktor keamanan data. Pelanggan harus bertindak sebagai data ownership.
Meskipun teknologi ini masih memiliki kekurangan dalam hal risiko, tetapi teknologinya perlu dipelajari dan dikembangkan secara terus-menerus. Menjadi pemain jauh lebih menguntungkan daripada hanya sebagai pengguna. Seiring dengan semakin baiknya kualitas jaringan internet, maka prospek bisnis provider Komputasi Awan pun semakin menjanjikan.***
Memang secara umum, Indonesia masih di posisi sebagai pengguna sistem teknologi informasi (TI) dan sistem komputer. Perkembangan sistem TI dan sistem komputer tidak lantas menempatkan Indonesia sebagai pemain global. Begitu banyak dukungan yang belum dimiliki meski Indonesia memiliki kemampuan sebagai pemain.
Contoh perkembangan TI yang sedang hangat dibicarakan di negara-negara maju adalah Komputasi Awan (Cloud Computing). Walaupun di luar negeri perebutan area Komputasi Awan ini begitu hingar-bingar, tetapi di Indonesia yang serius tercatat hanya PT. Telkom melalui anak perusahaannya Sigma Cipta Caraka untuk aplikasi core banking bagi bank kecil-menengah. Selanjutnya bekerja sama dengan IBM Indonesia dan mitra bisnisnya, PT. Codephile, Telkom menawarkan aplikasi e-Office on Demand.
Jika dibandingkan dengan pemain-pemain global seperti IBM, Microsoft, Google dan Apple, peperangan untuk menjadi penguasa teknologi Komputasi Awan begitu seru, maka PT. Telkom termasuk perusahaan yang tidak ingin hanya menjadi pengguna walau mungkin tidak menjadi provider kelas dunia.
Lebih Dalam Mengenai Komputasi Awan
John McCarthy, seorang pakar komputasi MIT pada tahun 1960-an mempunyai visi bahwa suatu hari nanti komputasi akan menjadi infrastruktur publik seperti halnya listrik dan telepon. Beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun1995, pendiri Oracle, Larry Ellison memunculkan ide Network Computing sebagai kampanye menggugat dominasi Microsoft, yang pada tahun yang meluncurkan software Windows 95 dan merajai desktop komputer. Ide Network Computing tersebut sempat menghangat dengan hadirnya beberapa pabrikan yaitu: Sun Microsystem dan Novell Netware. Namun kemudian ide ini kembali menghilang karena keterbatasan kualitas jaringan komputer yang belum memadai pada saat itu.
Komputasi Awan semakin populer di awal tahun 2000-an, dimana eks Vice President di Oracle, Marc Benioff meluncurkan layanan aplikasi dalam bentuk Software as a Service di Salesforce.com dengan misinya yang terkenal dengan "The End of Software". Mulai saat itu Komputasi Awan (Cloud Computing) bergulir bak bola salju. Demikian sekilas sejarah awal teknologi ini.
Ditilik dari namanya, Komputasi Awan pada dasarnya menggunakan Internet-based Service untuk penyediaan berbagai layanan software, sistem operasi dan penyimpan data. Penggunaan kata awan sendiri karena teknologi ini berbasis internet, yang biasa digambarkan dalam bentuk awan. Secara singkat Komputasi Awan adalah sebuah teknologi yang menyediakan berbagai layanan yang dibutuhkan pengguna. Mulai dari software, sistem operasi, dan penyimpan data yang mudah digunakan dan fleksibel dalam hal biaya.
Fleksibiltas biaya dimungkinkan karena pengguna (user) bebas memilih jenis layanan sesuai keperluannya. Dalam hal memilih pun, pengguna dapat dengan cepat berganti-ganti jenis tanpa harus melewati prosedur berbelit. Jenis kontrak tersebut terbagi dalam tiga, yaitu: Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS), dan Infrastructure as a Service (IaaS).
Jenis kontrak SaaS memberikan kemudahan kepada pengguna untuk dapat memanfaatkan sumberdaya perangkat lunak (software) dengan cara berlangganan. Komputasi yang saat ini ada mengharuskan pengguna meng-instal berbagai software berikut lisensinya ke dalam komputer. Harga software original yang mahal dan keterbatasan kapasitas hard-disk menjadi halangan tersendiri bagi performa komputer dan cost pengguna. Pemain global sebagai penyedia yang ada sekarang contohnya: Salesforce.com, Zoho.com, Xero.com
Sedangkan PaaS memberikan layanan yang menyediakan modul-modul siap pakai dan memungkinkan pengguna mengembangkan aplikasi yang hanya bisa berjalan di atas platform tersebut. PaaS dan SaaS mempunyai karateristik yang sama yaitu pengguna tidak memiliki kendali terhadap sumberdaya komputasi dasar seperti memori, media penyimpanan, processing power, dan lain-lain. Google AppEngine merupakan platform yang disediakan google untuk layanan ini.
Selanjutnya Infrastructure as a Service (IaaS) pada posisi atau level yang lebih rendah dibanding PaaS. IaaS pada prinsipnya menyewakan sumberdaya TI dasar, meliputi media penyimpanan, processing power, memory, sistem operasi, kapasitas jaringan, dan lain-lain. Mirip dengan penyedia data center tapi lebih kepada unsur mikro. Perbedaan dengan layanan data center konvensional saat ini adalah IaaS memungkinkan pelanggan melakukan penambahan atau pengurangan kapasitas secara fleksibel dan otomatis. Amazon.com dengan aplikasi Amazon EC2 (Elastic Computing Cloud) merupakan pionirnya.
Faktor Risiko Cloud Computing
Bagi perusahaan yang membutuhkan tingkat keamanan dan kerahasiaan data yang tinggi (High Secure Data) memang harus memilah secara detail kegiatan apa saja boleh menggunakan teknologi Komputasi Awan. Karena semua data dari seluruh pengguna tersimpan pada satu host provider, sehingga tingkat keamanannya rendah karena kemungkinan kebocoran data lebih besar tanpa sepengetahuan pengguna/penyewa. Facebook salah satu perusahaan yang berusaha memperbaiki terms of use aggrement pengguna akibat dari faktor keamanan data.
Selain hambatan keamanan data, kemungkinan kehilangan data dan cara mendapatkannya kembali menjadi persoalan tersendiri bagi TI Komputasi Awan. Human error (kesalahan manusia), bencana alam, dan sebagainya merupakan kemungkinan penyebab kehilangan data yang paling sering dialami. Dengan demikian kehati-hatian pengguna sebelum menjalin kontrak penggunaan Komputasi Awan perlu lebih ketat. Sumber daya yang mudah dan murah dengan menggunakan Komputasi Awal untuk keperluan bisnis perusahaan bukan berarti harus mengabaikan faktor keamanan data. Pelanggan harus bertindak sebagai data ownership.
Meskipun teknologi ini masih memiliki kekurangan dalam hal risiko, tetapi teknologinya perlu dipelajari dan dikembangkan secara terus-menerus. Menjadi pemain jauh lebih menguntungkan daripada hanya sebagai pengguna. Seiring dengan semakin baiknya kualitas jaringan internet, maka prospek bisnis provider Komputasi Awan pun semakin menjanjikan.***